Top Skor

5 Klub Papan Atas yang Merekrut Pelatih Papan Tengah

Melihat hasil liga champions tengah pekan kemarin,  ada begitu banyak faktor yang membuat sejumlah klub come back yang fantastis.

Comeback fantastis ini biasanya diawali dengan keputusan brilian seorang pelatih.

Di sisi lain ada beberapa klub yang timnya tersingkir justru menyalahkan pelatihnya,  terutama melihat ke background pelatih yang memang kurang mentereng.

Valverde adalah salah satu pelatih yang terkena dampaknya,  kala perjalanan gemilangnya sepanjang musim harus ternoda dengan comeback Roma.

Direkrutnya Valverde dari Bilbao yang notabenenya berada di papan tengah,  dianggap sebagai penyebabnya.

Sementara berlawanan dengan fakta Valverde,  tim raksasa asal Jerman baru-baru ini mengumumkan Niko Kovac dari Frankfurt sebagai pengganti Juup Heyckness di akhir musim.

Melihat hal diatas,  kami mengumpulkan 5 pelatih papan tengah yang direkrut klub papan atas,  berikut daftarnya :

5. Bayern Munchen

Tidak cukup banyak pelatih yang dapat berbahasa Jerman dan memiliki kualitas untuk melatih Bayern Munchen. Apalagi, jika tolok ukurnya kesuksesan dari segi raihan titel. Petinggi Bayern mungkin sadar akan hal tersebut, sehingga merekrut pelatih minim pengalaman, namun, berkualitas.

Dia adalah Niko Kovac, yang juga pernah bermain untuk Bayern di medio 2001-2003. Kovac saat ini melatih Eintracht Frankfurt setelah sebelumnya melatih Timnas Kroasia. Kovac, 46 tahun, belum meraih sukses. Akan tetetapi, pencapaiannya sejauh ini bagus di Frankfurt.

Tidak hanya ia membawa klub bertahan di Bundesliga, Frankfurt juga dibawanya bersaing merebutkan zona Champions League musim ini. Selain berkualitas, Kovac direkrut untuk menggantikan Jupp Heynckes per musim 2018/19 karena dianggap mengetahui kultur Bayern.

4. FC Barcelona

16 tahun menjalani karier kepelatihan, Ernesto Valverde lebih banyak menghabiskan waktunya bersama klub-klub papan tengah seperti Athletic Bilbao, Espanyol, Villarreal, dan Valencia. Satu-satunya klub besar yang ditanganinya adalah klub Yunani, Olympiacos, selama dua periode (2008/09 dan 2010-2012).

Kendati demikian, FC Barcelona tetap merekrutnya di awal musim ini untuk menggantikan Luis Enrique. Klub asal Catalunya cukup percaya dengan kualitasnya untuk mengangkat performa tim, terlebih, Valverde juga pernah bermain di Barcelona pada medio 1988-1990. Pilihan Barca tidak salah. Mereka berpotensi meraih double winnersmusim ini di ajang La Liga dan Copa del Rey.

3. Chelsea

Berawal dengan statusnya sebagai asisten manajer dan mantan pemain Chelsea, The Blues menjadikannya manajer interim di penghujung musim 2011/12, setelah klub memecat Andre Villas-Boas. Bersama Roberto Di Matteo, peruntungan Chelsea lebih baik, karena di akhir musim meraih titel FA Cup dan Champions League.

Sebelum melatih Chelsea, Di Matteo hanya melatih klub seperti Milton Keynes Dons dan West Bromwich Albion. Pasca meninggalkan Chelsea di tahun yang sama, tahun 2012, Di Matteo melatih Schalke dan Aston Villa. Ironisnya, juara Champions League tersebut kini tidak lagi melatih sebuah klub.

2. Tottenham Hotspurs

Jika Tottenham Hotspur terus bersabar dengan Mauricio Pochettino, cepat atau lambat klub asal London Utara tersebut akan segera meraih trofi. Tottenham berkembang pesat sejak ditangani manajer asal Argentina dari tahun 2014. Baik itu dari permainan mereka atau konsistensi bermain di papan atas klasemen Premier League.

Tidak ada yang menduga Tottenham bisa sebaik ini di bawah asuhan Pochettino, yang sebelumnya hanya melatih Espanyol dan Southampton. Kelebihan Pochettino adalah memaksimalkan potensi pemain dalam skuat, serta meleburkan kombinasi pemain muda dan senior.

1. AS Roma

Bagi Anda yang tidak mengikuti sepak bola Italia, kebanyakan di antara Anda mungkin tidak mengenal Eusebio Di Francesco. Mungkin, Anda juga berasumsi jika dia pelatih atau pemain yang berasal dari Brasil atau Portugal. Wajar, Curriculum Vitae Di Francesco sebagai pelatih memang belum semewah Jose Mourinho atau Pep Guardiola.

Namun, Roma bersedia membangun era baru bersama mantan pemainnya itu dengan merekrutnya dari Sassuolo di awal musim. Di Francesco juga pernah menjadi bagian skuat Roma kala menjuarai Scudetto di musim 2000/01.

Sejauh ini kiprahnya cukup bagus. Tidak hanya membawa Roma bersaing merebutkan zona Champions League, ia juga membawa Giallorossi ke semifinal Champions League musim ini. Sebelum melatih Sassuolo, Di Francesco hanya melatih Virtus Lanciano, Pescara, dan Lecce.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker