Top Skor

5 Laga Perpisahan Terburuk Pemain Bintang

 

 

Maradona pernah mengatakan bahwa karir sebagai pemain sepak bola amatlah singkat dan terasa sangat cepat. Idealnya seorang pemain menghabiskan masa karirnya sebagai pemain selama kurun waktu 15 tahun. Dimana pada umumnya pesepakbola akan mulai bersinar di usia 20 tahun dan akan mengakhiri karirnya di usia 35 tahun.

 

 

Masa produktifnya seorang pesepakbola akan selesai dan memberikan perpisahan buat profesi yang membesarkan namanya. Hal itulah yang terjadi buat legenda dari sebuah klub yang menghabiskan masa baktinya untuk waktu yang  tidak sebentar. Di bawah ini kami memiliki nama-nama legenda klub besar dunia dimana perpisahan yang terjadi tidaklah seindah seperti yang diharapkan. Siapa sajakah legenda top dunia yang punya cerita perpisahan “buruk” tersebut, berikut 5 nama yang kami miliki :

Pirlo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Andrea Pirlo

​ Andrea Pirlo mungkin lebih layak disebut sebagai legenda sepak bola Italia ketimbang mengerucutkannya sebagai legenda AC Milan dan Juventus. Namun performa menawannya di lini tengah, memang akan selalu membekas di ingatan pecandu sepak bola terlepas dari warna seragam yang dikenakannya.

 

Pada periode 2011-2015, Pirlo memperkuat Juventus, menandai kebangkitan Si Nyonya Tua dan kembalinya kejayaan mereka di kancah Eropa. Tiga gelar scudetto diraihnya bersama Juventus dan ia berhasil membawa mereka menuju final Champions League 2014/15. Final ini menjadi laga terakhir Pirlo bersama Juventus, yang sayangnya berakhir dengan kekalahan klub Italia tersebut dari Barcelona dengan skor 1-3.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Paolo Maldini

 

​”Grazie kapten, di lapangan kamu seorang sang juara, tapi kamu kurang menghormati orang-orang yang membuatmu kaya raya.”

 

Anda percaya seorang legenda klub selama lebih dari dua dekade masih harus membaca tulisan itu di laga terakhirnya bersama klub? Tanyalah Paolo Maldini. Itu adalah tulisan yang tertera pada banner milik Curva Sud AC Milan, pendukung fanatik Milan, di pertandingan terakhir Maldini pada Mei 2009. Dendam lama karena olokan Maldini kepada mereka sebagai sekelompok mata duitan pada 2005 ternyata tak pernah benar-benar pulih. Hujatan Maldini kepada kelompok suporter Milan itu terlontar pasca kekalahan memalukan dari Liverpool. Penyebabnya ditengarai karena kemarahan Maldini atas kabar yang menyebutkan bahwa mereka menjual tiket pertandingan di Istanbul ke sesama Milanisti dengan harga tinggi.

 

Ada banyak perseteruan di antara Maldini dan Curva Sud setelah babak tidak menyenangkan di tahun 2005, yang juga diwarnai kekalahan dramatis Milan atas Liverpool di partai final tersebut, tapi di luar Curva Sud Milan, Maldini adalah legenda besar dan terhormat.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Iker Casillas

 

​ Pengabdian Iker Casillas selama 16 tahun plus gelimang trofi juara rupanya tak membuat kiper dengan julukan Saint Iker itu mendapatkan perlakuan yang layak dari Real Madrid. Ia didepak begitu saja setelah memberikan segalanya pada musim panas 2015.

 

Sakit hati yang dirasakan Casillas terlihat dari air matanya dalam sebuah konferensi pers setelah El Real mengumumkan akan melepas Casillas. Yang memilukan adalah saat momen perpisahannya di Bernabeu hanya dihadiri segelintir pengunjung. Terlihat sekali, Madrid menyiapkan segala sesuatu dengan apa adanya, jika tidak boleh dibilang melakukannya atas desakan publik.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Frank Lampard

 

​ Dengan segala prestasi yang dipersembahkannya untuk Chelsea sejak 2001, tak akan ada yang menduga Frank Lampard tak akan pensiun di Stamford Bridge. Tapi, nyatanya bukan itu yang menjadi takdir Lampard.

 

Sang pemain sepertinya tak pernah mengetahui niat para petinggi Chelsea untuk melepasnya hingga akhirnya ia harus mengucapkan salam perpisahan di kamp pelatihan Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2014 di Amerika Serikat. Tanpa ada laga perpisahan, perayaan khusus, tidak ada. Yang lebih tak dapat dipercaya lagi adalah fakta Lampard mengaku mendapatkan keputusan dewan klub Chelsea melalui telepon.

1. Steven Gerrard

​ Legenda klub seperti Steven Gerrard mungkin layak mendapatkan momen yang jauh lebih membahagiakan ketimbang melihat klub yang diperkuatnya sejak remaja dipermak 1-6.

 

Dalam laga terakhirnya bersama Liverpool pada musim 2014/15, Steven Gerrard menjadi satu-satunya pencetak gol ke gawang Stoke City. Sayangnya, itu bukan gol penyeimbang apalagi gol kemenangan, itu semata merupakan gol hiburan karena Stoke menggelontor gawang Simon Mignolet dengan enam gol.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker