Formasi

Alasan kenapa pemanasan itu PENTING

 

brosis karena ini ane anggap penting,
makanya ane coba bagikan..

semoga kita tidak hanya suka dan bisa
maen bola, tapi juga tau yang sehat
dari yang kita mainkan..
silahkan di emut tulisannyaTongueTongueTongue

“Yuk, stretching!
1,2,3,…8.
Ayo, dilakukan lagi.”

Bagi kamu yang suka berolahraga,
kalimat ini tentu tidak asing lagi.
Stretching, atau pemanasan ini dilakukan
sebelum, saat, dan sesudah latihan.

[Image: images_19_copy.png]

Bahwa stretching merupakan hal yang penting
untuk dilakukan, mungkin sudah banyak yang tahu.
Tetapi, sepenting apa sebenarnya peregangan
untuk sepakbola? Untuk pesenam yang memang
membutuhkan kelenturan tubuh, tentu hal ini
jadi penting. Tapi bagaimana dengan pemain bola?

Stretching Mungkin Menolong Cedera Hamstring

Cedera hamstring! Saya setuju bahwa cedera
ini sangat, sangat, dan sangat menyebalkan.
Dan keluhan ini yang paling sering terdengar
ketika saya memimpin sesi latihan.

Saya masih ingat akan sebuah kejadian saat
saya sedang melakukan pemeriksaan cedera
engkel sebuah pemain. Pada saat melakukan
hal itu di pinggir lapangan, dan karena itu
dilakukan di negara saya tercinta Republik
Indonesia, maka proses pemeriksaan ini menjadi
tontonan umum para pendukung tim tersebut.

Merasa seperti monyet yang sedang menari
di lampu merah, saya mendengar celetukan
penonton. Beberapa dari mereka dengan
cueknya meneriakkan –ya benar-benar
berteriak, bukan berbisik–
“Bang, itu hamstring-nya yang salah”.

Saya hanya tersenyum saja.
Sambil melanjutkan pekerjaan,
saya kembali memeriksa engkel sang pemain.

Di negara ini, hamstring bahkan sudah
menjadi nama umum buat semua jenis
cedera yang terjadi di dalam tubuh.
Hamstring sendiri merupakan jenis
cedera yang paling sering terjadi
buat seorang olahragawan dan,
ironisnya, memang pasti kambuhan.
Tak heran jika cedera sangat diidentikkan
dengan hamstring.

Tapi sampai penjelasan ini saya akan berhenti,
karena saya ingin membahas tentang stretching
dan bukan hamstring.

Tujuan utama dari stretching sendiri adalah
untuk menambah fleksibilitas dari sebuah
otot dan juga jadi salah satu metode
untuk mencegah terjadinya cedera otot.
Tapi, penting diingat bahwa fleksibilitas
otot dari setiap atlet itu berbeda-beda.
Jadi, pada saat melakukan stretching,
kemampuan seorang atlet juga akan
berbeda satu dengan lainnya.

Kita pun dapat menarik kesimpulan bahwa
peristiwa seorang individu yang melakukan
stretching dan kemudian mengalami cedera
di otot tersebut, tidak terkait dengan
kurangnya durasi stretching, jenis stretching
yang dilakukan, dan berapa kali repetisinya.

Cedera di otot terjadi pada saat pertandingan
dan pada saat berlatih. Masa-masa itu adalah
waktu ketika sebuah otot paling sering
terkena cedera. Sementara itu, faktor lainnya
seperti lapangan, cuaca, sepatu dll. Kurang
memiliki kontribusi yang signifikan terhadap cedera otot.

Sekarang, mari menjawab pertanyaan di atas
dan bawa si hamstring kembali lagi.

Mengapa otot hamstring ini paling sering
mengalami cedera? Sebuah majalah dari Inggris,
yaitu British Journal melakukan sebuah survei
pada 30 klub bola di sebuah negara Eropa.
Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa:

– Satu dari tiga cedera otot adalah cedera hamstring.
– 14% dari cedera hamstring adalah cedera
yang berulang-ulang.
– Frekuensi cedera hamstring tertinggi terjadi
di level divisi yang paling tinggi dan frekuensi
paling rendah di divisi terbawah.
– Kebanyakan cedera hamstring yang ringan
terjadi pada awal latihan atau pertandingan.
Sementara yang parah di 2/3 waktu dari
sebuah latihan atau pertandingan.
– Pemain yang paling sering mengalami cedera
hamstring adalah pemain depan, diikuti oleh pemain sayap.
– Cedera hamstring sering diakibatkan oleh
salahnya teknik dalam melakukan stretching.

Pada saat memperhatikan para atlet melakukan
stretching, ada sesuatu hal yang sangat mencuri
perhatian saya. Meski peregangan dilakukan
dengan berbagai gerakan yang berbeda,
namun peregangan itu hanya mengacu pada satu
bagian saja. Coba tebak otot apa itu?
Ya! Hamstring!! What a surprise.

Maka tidak heran bila otot ini menjadi rentan cedera
karena coba dipanjangkan dan ditarik terus menerus.
Dan otot ini pada akhirnya akan menjadi lemah dan bukan kuat.

Untuk mengantisipasi hal itu, bentuk dari pemanasan
pun harus diubah dan dimodifikasi.
Diperlukan juga variasi-variasi yang baru dalam peregangan.

Teknik yang paling tepat dilakukan pada saat
stretching ialah tehnik PNF, atau lebih tepatnya
Proprio Neuromusculair Fascilitation.
Teknik ini adalah pergerakan stretching dalam bentuk 3-D.

PNF ini adalah kombinasi pergerakan statis dan
dinamis yang dilakukan dalam sebuah range of
motion dari yang besar sampai kecil.
Range of Motion atau ROM sendiri adalah
total ruang pergerakan yang terjadi di dalam
sebuah sendi atau joint.

Misalnya pergerakan lutut dari lurus sampai
ditekuk ialah dari -5 derajat sampai -140/150 derajat.
Semua pergerakan yang tak mencapai cakupan
sudut ini akan disebut hypo-mobility atau immobility.
Faktor ini sering kali dilewatkan pada saat
melakukan terapi, sehingga sebuah cedera tak
kunjung sembuh.

Sekali lagi, saya harus menggunakan kata stop.
Mari kita bahas tentang immobility pada lain kesempatan.

Kembali ke fokus bahasan tentang PNF,
pergerakan yang dilakukan menggunakan teknik ini
sangatlah baik dan efektif, meski metode ini tak
bisa semudah itu dilakukan seorang atlet.
Dia harus mengambil waktu yang cukup dan
berkonsentrasi dalam melakukan gerakan PNF.

Konsentrasi penuh dan disiplin tinggi dalam melakukan
PNF tidak hanya akan membuat sebuah otot fleksibel,
tapi juga membantu menghilangkan cedera hamstring
bila fokusnya dilakukan untuk hamstring.

Kenapa bisa begitu? Bukankah otot yang tertarik,
atau sakit, tak boleh di-stretch atau diregangkan?
Ini tentu benar sekali. Namun PNF bisa menawarkan
cara peregangan yang bisa menghindari bagian yang
sakit atau nyeri, atau diaktifkan tanpa merasa nyeri.
Inilah keunikan dari gerakan PNF.

Nah, kembali ke pernyataan di awal tulisan ini.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, terlihat bahwa
stretching memang mungkin untuk menolong cedera
hamstring. Tapi ini dengan catatan, bahwa stretching
tidak membuat tendangan menjadi lebih baik.

* Penulis adalah Sport Physiotherapist yang bekerja
sama dengan Pandit Football Indonesia dalam
pengembangan sport science di Indonesia.
Sering dipercaya sebagai fisioterapis tim nasional
Indonesia. Akun twitter: @MatiasIbo

Sumber : Detik.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker