Formasi

Dalam Tim yang Baik Anda Menang Bersama-sama dan Kalah Bersama-sama

david moyes
The Chosen One David Moyes saat ini memang tidak melatih satu klub apa pun. Pelatih yang menggantikan Sir Alex di Manchester United ini harus angkat koper dari real sociedad karena sulit mengangkat prestasi tim.
Namun jangan lupa juga bahwa David Moyes merupakan pelatih pilihan seorangg opa Alex Ferguson. Ketika akan pensiun, Ferguson sangat yakin dengan kemampuan Moyes karena bisa secara konsisten mengangkat tim “tak berduit” seperti Everton.

Ketika melatih Everton, Moyes pernah berbagi secara panjang lebar tentang bagaimana peran seorang pelatih ketima timnya dihadapkan dengan adu penalty. Ada kata-kata Moyes yang penting untuk kita teladani, terutama bagaimana bekerja secara tim. Berikut kami hadirkan penjelasan “the chosen one”, semoga bisa mengilhami :

Dalam tim yang baik Anda menang bersama-sama dan kalah bersama-sama. Adu penalti menjadi pengalaman tersendiri di sepak bola dan cara ini membuat tiap pemain yang ambil bagian merasa ada sebua beban di diri mereka sendiri.

Para pemain yang menjadi eksekutor tendangan penalti perlu tahu bahwa tanggung jawab tak semata-mata berada di pundak mereka, namun dibagi, dan hal yang sama juga berlaku untuk kiper.

Sebagai manajer, Anda dapat menghilangkan tekanan dari pemain-pemain Anda dan membuat diri Anda bertanggung jawab untuk keberhasilan dan kegagalan yang diraih.

Anda

tak akan pernah naik ke atas sebuah panggung tanpa adanya tindakan apa pun jadi saya pikir jika Anda berjalan untuk mengambil tendangan penalti, atau berdiri di antara dua tiang untuk melakukan sebuah penyelamatan, Anda harus memikirkan sesuatu yang jelas tentang apa yang Anda akan lakukan.

Di sinilah peran seorang manajer, berbagi tanggung jawab dan bagaimana ia mempersiapkan tim adalah kunci baginya.
Tim saya memenangi dua kali adu penalti, Everton melawan Manchester United di semifinal Piala FA 2009 dan Preston North End melawan Birmingham City di babak semifinal play-off Championship pada tahun 2001.

david moyes 2

Saya juga pernah sekali menelan kekalahan dengan Everton, melawan Fiorentina, jadi saya tak dapat disebut sebagai guru. Saya percaya harus ada persiapan untuk mengambil penalti: Anda menyuruh semua pemain yang ada di skuat Anda untuk mencoba mengambil tendangan penalti saat latihan, semua pemain, karena ada beberapa pemain yang tidak dapat dibayangkan baik, justru berubah menjadi eksekutor yang baik.

Anda bisa menemukan beberapa pemain yang berbakat dalam mengambil penalti, beberapa pemain tak memiliki bakat dan ada beberapa lainnya lagi perlu sedikit latihan, dengan bekerja bersama mereka secara teknis dan mental Anda dapat membuat mereka jauh lebih baik dalam mengambil tendangan dari jarak 12 meter.

Saya rasa Capello tak hanya tahu lima pengambil penalti terbaik, namun juga lima hal berikutnya yang diperlukan untuk mencetak gol dari penalti, akurasi, penguasaan dan penempatan menjadi hal yang utama. Anda ingat saat Anda menonton dan jika Anda melihat pemain Anda mencetak gol cukup baik dalam latihan, maka Anda akan berkata: “Saya menyukainya. Dapatkah Anda melakukannya dan berlatih? Apakah Anda bisa dijamin untuk mengambil tendangan penalti?”
Ini artinya Anda membiarkan pemain Anda berjalan ke tempat mereka, dan, lebih penting Anda telah memutuskan apa yang akan mereka lakukan.

Ketika kami melawan Manchester United, semua pemain saya melakukannya dengan sama, dari tempat itu. Saya merasa menghilangkan tekanan dari setiap pemain.
Anda katakan kepada pemain: “Yang saya ingin Anda lakukan adalah X. “Jika tidak masuk, tak masalah. Kami mencetak gol bersama-sama, kami kalah bersama-sama ketika itu adalah babak adu penalti.

Cara yang serupa juga dapat membantu kiper. Ada database dan kinerja alat yang memberikan Anda gambaran mengenai apa yang akan dilakukan pemain tertentu dari titik penalti dan Anda mencari tahu di mana pemain dari tim lawan menempatkan bola dalam adu penalti sebelumnya baik di klub atau di level internasional.

Jens Lehmann menggunakan informasi seperti ini ketika ia menyelamatkan dua tendangan penalti saat Jerman mengalahkan Argentina di Piala Dunia lalu. Anda memberikan informasi kepada kiper dan berkata kepadanya, misal: “Jika Philipp Lahm mengambil penalti, ia akan menempatkannya ke kanan bawah, dan saya ingin Anda bergerak ke kanan dan turun dengan cepat.”

Beberapa kiper memiliki cara sendiri di mana mereka melihat pergerakan pengambil penalti dan seterusnya. Itu tak jadi masalah, tapi saya lebih suka menggunakan analisis. Prinsipnya sama dengan manajer lainnya yang mengatakan kepada kiper apa yang harus dilakukan dan jika terjadi kesalahan dia tahu manajernya tak bisa mengeluh.

Ada cara latihan yang dapat Anda lakukan untuk membuat pemain jauh lebih baik dalam adu penalti. Anda bisa melatih mereka mengambil penalti tanpa kiper dan fokus pada satu hal seperti akurasi.
Inggris cukup beruntung memiliki sejumlah pemain yang telah terbukti andal dalam mengambil tendangan penalti untuk klub mereka. James Milner mencetak beberapa gol dari penalti untuk Aston Villa, Gareth Barry pemain yang hebat, Wayne Rooney pemain yang bagus, Steven Gerrard memiliki rekor sukses bersama Liverpool. Dan Frank Lampard, meskipun ia melewatkan pertandingan persahabatan melawan Jepang, ia sangat bagus.

Anda ingin pengambil penalti utama Anda menguasai setidaknya dua situasi penalti. Ia bisa menjadi eksekutor di waktu normal dan perlu melakukan sesuatu yang berbeda dalam drama adu penalti, dan Lampard memiliki variasi itu.
David James juga menjadi asset bagi Inggris jika terjadi adu penalti. Ia salah satu pemain hebat dan kehadirannya sangat berpengaruh besar. Ia cukup tinggi untuk menjangkau sudut yang sulit. Ia berpengalaman dan memiliki kriteria yang baik.

Untuk bisa menjadi saver yang konsisten, kiper harus benar-benar atletis. Ini adalah tambahan penting di Afrika Selatan di mana bola bergerak lebih cepat di ketinggian.
Seperti yang Anda harapkan dari seorang pelatih, Fabio Capello memimpin skuatnya berlatih tendangan penalti saat mereka berkumpul di Austria bulan lalu dan dia akan mengetahui pengambil tendangan penalti yang ideal jika Inggris harus terlibat drama adu penalti melawan Jerman.

Saya katakan ideal, karena poin penting adalah Anda tak bisa memastikan siapa yang akan berada di lapangan hingga 120 menit, pemain yang Anda pasang untuk mengambil penalti mungkin cedera, diusir keluar lapangan atau diganti. Saya berpendapat Capello tak hanya mengetahui lima pengambil tendangan penalti terbaik tetapi juga lima berikutnya.
Anda dapat merencanakan dengan teliti dan kemudian sesuatu terjadi di luar kontrol Anda. Jamie Carrager mengambil penalti dalam sesi latihan di Piala Dunia lalu dan ketika terjadi adu penalti melawan Portugal, ia melakukannya persis seperti yang ia lakukan dalam latihan dan mencetak gol dengan cara itu, namun wasit tidak siap dan memintanya untuk melakukannya kembali.

Di kesempatan kedua, Carragher gagal melakukannya. Ketidakberuntungan memainkan bagian besar di sana dan saya berpendapat Inggris tak memiliki keberuntungan dalam adu penalti.
Seperti yang saya katakan, saya bukan guru. Saya hanya merasakan satu kali adu penalti sebagai pemain dan saya gagal. Itu terjadi saat Bristol City melawan Mansfield di final Freight Rover, 1987. Sepanjang minggu dalam sesi latihan saya berhasil mengalahkan kiper, namun setelah 120 menit bermain, kedua kaki saya kram dan saya tak bisa melepaskan tendangan seolah-olah kaki saya tertanam.
Itu terjadi di depan 58.000 fans di Wembley. Saya gagal, kami kalah 5-4.

Hari itu saya mengambil dua penalti: pertama saya dan terakhir juga saya.

Tags

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker