Formasi

OLAHRAGA semestinya dekat dengan pola hidup sehat

 

OLAHRAGA semestinya dekat dengan pola hidup sehat. Tapi, ketika budaya selebritis merasukinya, gaya hidup pun berubah. Itu yang dialami George Best dan Diego Maradona. Dua tokoh yang dianggap selebritis pertama dalam dunia sepakbola.

 

Awalnya karena kontrak gila-gilaan yang mendatangkan uang berlimpah. Kemudian menjadi idola yang dipuja-puji dan selalu menghiasai halaman surat kabar. Lambat laun terseret pula ke dalam kehidupan gemerlap.


 

Maradona menjadi contoh paling nyata. Anak yang tadinya akrab dengan lumpur dan debu di wilayah kumur Buenos Aires, kemudian berselimut kemegahan. Gaya hidup yang membuat Maradona kehilangan kontrol.

 

Maradona mulai akrab dengan dunia pesta sejak pindah ke Barcelona pada 1982. Dia tinggal di sebuah rumah mewah di dekat pantai. Saat cedera karena patah kakinya, dia lebih banyak waktu senggangnya. Ini memberi kesempatan kepadanya bergaul dengan kaum jet set.

 

Sejak itu, Maradona semakin akrab dengan gaya hidup dunia gemerlap. Minuman dan narkoba mulai menjadi bagian dari hidupnya. Semakin parah ketika dia mulai pindah ke Napoli pada 1984. Diperlakukan bak dewa, dia bebas melakukan apa saja.

 

Maradona pun semakin terbius oleh pesta, minuman dan narkoba. Dia semakin sering mabuk karena minuman keras atau fly karena pengaruh kokain.

 

Pernah suatu saat, Maradona sengaja menyewa pesawat mewah. Dia membawa rekan-rekan dekatnya sesama pemain sepakbola ke Argentina untuk sekadar berpesta.

Dan, di pesawat itu sudah tersedia segala barang setan yang memabukkan.

Hal sama juga dilakukan George Best. Bintang Manchester United ini juga terjebak dalam kehidupan gemerlap ala selebritis. Dia tak pernah terpisah dari minuman keras, meski beberapa kali ditangkap polisi karena mabuk di tempat umum.

 

Best juga tipe playboy. Sebagai pemain yang ganteng, terkenal dan bergelimang uang, dia dikejar banyak wanita. Best sendiri hampir selalu meladeninya, jika dia punya berminat kepadanya. Tak heran, selama kariernya, dia banyak dihiasi gosip dan skandal tentang wanita.

 

Maradona dan Best adalah dua contoh pemain hebat di masa lalu, tapi juga contoh buruk dalam gaya hidupnya. Meski begitu, gaya hidup mereka banyak yang meniru juga. Terutama dari kalangan sepakbola.

 

Best, misalnya, menjadi virus gaya pemain sepakbola Inggris yang selebritis. Banyak pemain yang kemudian bukan sekadar pesepakbola, tapi juga bergaya selebritis. Sampai akhirnya muncul tokoh selebritis sepakbola terheboh, David Beckham.

 

Maradona juga demikian. Selain keterampilannya bermain sepakbola banyak ditiru, gayanya juga demikian. Dia pula pemain memopulerkan penggunaan satu anting di telinga. Sejak itu, seolah anting menjadi salah satu asesori wajib bagi pesepakbola, termasuk di Indonesia.

 

Gaya hidup yang dekat dengan minuman keras seperti yang dipraktekkan Best dan Maradona, bagaimanapun juga berpengaruh pula. Banyak catatan pemain sepakbola yang sulit melepaskan diri dari ketergantungan minuman keras. Tony Adams dan Paul Gascoigne menjadi salah satu contohnya.

 

Namun, satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari gaya hidup dugem yang dipraktekkan pesepakbola. Mereka mengakhiri karier dengan pedih. Bahkan, sisa hidupnya pun dijalani dengan berbagai deraan akibat gaya hidup di masa mudanya.


George Best sudah keluar dan masuk pusat rehabilitasi. Tapi, dia selalu gagal meninggalkan ketergantungan terhadap minuman keras, sampai akhirnya ginjalnya bermasalah. Bahkan, penyakit ginjal pula yang mengakhiri hidupnya pada Maret 2005.

 

Maradona tak kalah parahnya. Akibat kokain, kariernya sempat berantakan. Dia dihukum 15 bulan karena terukti menggunakan kokain pada 1991. Hukuman yang sama dia terima karena terbukti menggunakan ephedrine pada Piala Dunia 1994.

Kehidupan keluarganya pun berantakan. Maradona akhirnya bercerai dengan istri yang sekaligus orang paling ia cintai, Claudia Villafane, pada 204. Anaknya, Gianina mengatakan,

“Perceraian tampaknya menjadi jalan terbaik buat orangtua kami. Karena dengan demikian, kami justru bisa lebih akrab dan sering bertemu.”

 

Tak hanya itu, karier sepakbola Maradona pun berantakan. Setelah tak bermain lagi, dia memang sempat menjadi pelatih di Boca Juniors. Tapi, itu tak pernah lama. Dia segera terbuai kembali dalam dunia gemerlap yang memabukkan.

 

Karena itu, hidupnya sudah beberapa kali terancam. Pengaruh minuman keras dan narkoba telah menggerogoti tubuhnya. Maradona didiagnosis terkena hepatitis, masalah jantung dan perut. Beberapa kali dia harus masuk rumah sakit dalam keadaan kolaps, namun tetap saja dia sulit meninggalkan minuman dan narkoba.

 

Maradona dan Best, memang tokoh besar dalam sepakbola. Mereka punya permainan luar biasa yang membuat dunia terpesona. Tapi, mereka sendiri yang mengakhiri kisah indah itu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap minuman keras dan narkoba. Zat-zat setan itu tak hanya menghancurkan karier dan kehidupannya, tapi juga mencoreng nama baik mereka.

 

Permainan baik mereka memang pantas ditiru. Tapi, gaya hidup sebaiknya cukup menjadi pelajaran berharga yang tak perlu diulang kembali oleh para pemain sepakbola setelah mereka. Maka, Say no to drugs!

 

 

 

 

 

Sumber : Kompas.com

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker