Top Skor

5 Blunder yang pernah Dilakukan Pelatih untuk Pemainnya

Dalam sebuah laga penting, seorang pelatih biasanya akan berpikir meramu strategi untuk memenangkan laga tersebut. Pelatih akan lebih sulit ketika ia mendapati sejumlah pemainnya yang cedera atau terkena akumulasi kartu. Hal lain yang lebih mempersulit posisi wasit adalah ketika ia mendapati ada sejumlah pemain topnya yang bersikap tidak disiplin.

 

Kebanyakan pelatih biasanya akan merombak strateginya guna mendapatkan  formula alternative di laga penting tersebut. Salah satu cara yang lazim digunakan adalah dengan mencadangkan pemain yang kurang disiplin tersebut dan menemukan pemain lain yang sanggup mengisinya. Hal ini biasanya berakibat blunder terhadap tim. Dan berikut 5 blunder yang pernah dilakukan pelatih untuk timnya :

 

wenger

  1. Arsene Wenger (Mencadangkan Alexis Sanchez)

Keputusan Wenger untuk mencadangkan Alexis Sanchez pada pertandingan melawan Liverpool, Minggu (5/3) dini hari WIB mendapat kritikan dari banyak pihak. Sanchez merupakan pemain terbaik mereka musim 2016/17, namun Wenger lebih memercayakan Olivier Giroud untuk bermain dari awal.

 

Wenger beralasan ingin menggunakan bola-bola udara untuk membongkar pertahanan Liverpool. Hal ini tak berjalan baik. Sanchez yang masuk di babak kedua bahkan membuat kontribusi berupa assist pada gol Danny Welbeck. Sebuah keputusan yang tak seharusnya ia buat, karena Arsenal kalah 1-3 oleh Liverpool di akhir laga.

  1. Arsene Wenger (Mencadangkan Petr Cech)

Menghadapi Bayern Munchen di Allianz Arena pada leg pertama babak 16 besar Champions League 2016/17, Wenger malah memercayakan David Ospina di bawah mistar Arsenal dibanding Petr Cech. Padahal, Cech merupakan pemain paling senior di skuat Arsenal.

 

Wenger berdalih bahwa Ospina selalu ia mainkan di Champions League dan akan tetap ia pertahankan. Hasilnya, Arsenal kalah telak 1-5 dari Munchen. Walau Ospina bermain tak buruk, namun banyak pihak yang menyebut mereka bisa kalah dengan defisit lebih kecil apabila Cech yang bermain.

  1. Jose Mourinho (Bermain Terbuka Melawan Barcelona)

Laga El Clasico pertama Jose Mourinho bersama Real Madrid berjalan seperti mimpi buruk. Mereka kalah telak 0-5 di Camp Nou pada 2010/11. Jose Mourinho yang memang baru menjadi pelatih di musim pertamanya bersama El Real memanfaatkan pemain-pemain bintang Madrid untuk bermain terbuka melawan Barcelona.

 

Namun keputusannya tersebut terbilang cukup berani karena Barcelona sedang berada di puncak performanya musim itu. Madrid pun digilas lima gol tanpa balas akibat kewalahan melawan permainan agresif serta tiki-taka The Catalans.

 

Salah satu kekalahan terbesar Mourinho dalam kariernya.

  1. Diego Simeone (Memaksakan Diego Costa Bermain)

Final Champions League 2013/14 mempertemukan rival sekota, Real Madrid melawan Atletico Madrid. Penyerang Atletico, Diego Costa sebelum final tersebut tengah dilanda ketidakpastian akibat cedera yang dialaminya. Ia pun dinyatakan belum sepenuhnya fit dan diragukan untuk tampil sejak menit awal.

 

Namun, Diego Simeone memutuskan untuk memakai Costa di laga super penting itu karena Costa sedang dalam performa puncaknya. Sayangnya, keputusan ini tak berjalan baik, Costa tak bertahan lebih dari 10 menit dan harus digantikan Adrian Lopez.

 

Atletico pun kalah 1-4 lewat perpanjangan waktu karena kelelahan melakukan pressing di 90 menit pertama. Andai Simeone tak memaksakan Costa bermain, mereka mungkin masih memiliki satu slot pergantian pemain dan cerita malam itu akan berbeda.

  1. Jupp Heynckes (Menarik Keluar Thomas Muller)

Tampil di kandang sendiri melawan Chelsea yang performanya sedang tak konsisten di Premier League membuat Bayern Munchen diunggulkan jelang final Champions League 2011/12. Mereka pun tampak akan memenangi laga final tersebut setelah Thomas Muller mencetak gol lewat sundulannya di menit ke-83.

 

Tak lama berselang, Jupp Heynckes membuat pergantian pemain, Muller digantikan oleh Daniel van Buyten. Heynckes memang bertujuan untuk memperkuat pertahanan dan menjaga keunggulan 1-0. Namun, hal itu malah membuat Chelsea, yang terkurung di sepanjang pertandingan mulai menekan.

 

Hasilnya, menit ke-88 mereka menyamakan kedudukan lewat tandukan Didier Drogba. Mereka pun memaksakan Munchen bermain hingga adu penalti. Munchen pun takluk lewat drama adu penalti dengan skor 3-4.

 

Banyak pihak yang menyayangkan pergantian Muller karena dirinya dianggap menjadi motor lini depan Munchen untuk menyerang Chelsea di sepanjang laga.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker