Top Skor

5 Pemain yang Performanya Lebih Baik di Timnas daripada di Klub

Setiap pesepakbola pasti memiliki kerinduan kesuksesan di setiap kompetisi yang diikuti.

Tidak hanya bisa membantu kejayaan klub yang menggajinya saja namun juga mampu mengangkat prestasi dari negara yang ia bela.

Namun ada begitu banyak hambatan bagi pemain ketika harus sukses di kedua level klub dan timnas.

Dan di bawah ini ada beberapa nama pemain yang justru bagus di level timnas namun melempem di level klub :

1. Lukas Podolski (Jerman)

Lukas Podolski memang tidak mengalami karier gagal total di Bayern Munchen dan Arsenal.

Dia juga berstatus sebagai legenda FC Koln – klub yang mengorbitkan namanya.

Namun, bila dilihat karier pada level klub, Poldi jelas tidak pantas dianggap sebagai satu di antara pemain terbaik Jerman sepanjang sejarah.

Penampilan Podolski justru maksimal di tim nasional Jerman. Ia mencatatkan 130 penampilan bersama Nationalmannschaft.

Jumlah tersebut menempatkannya sebagai pemain ketiga dengan penampilan terbanyak.

Selain itu, Lukas Podolski juga menjadi pemain ketiga dengan catatan gol terbanyak di bawah Klose dan Gerrd Muller. Podolski mengemas 49 gol.

Puncaknya, Lukas Podolksi meraih gelar Piala Dunia 2014.

Sedangkan, ketika ia tidak tampil pada ajang yang sama empat tahun setelahnya, timnas Jerman tidak bisa berbicara banyak.


2. Eduardo Vargas (Chile)

“Saya tidak tahu kenapa bermain lebih baik di tim nasional,” ujar Vargas.

Eduardo Vargas adalah satu di antara pemain paling populer di Chile. Ketika tampil, ia jarang mengecewakan suporter.

Buktinya, ia adalah pencetak gol terbanyak di Copa America dua kali berturut-turut (2015 dan 2016). Menariknya, Chile keluar sebagai juara.

Secara keseluruhan, Vargas telah mengemas 38 gol dalam 90 pertandingan di level negara.

Namun, karier di klub tidak berbanding lurus dengan catatan itu.

Sang pemain gagal total di Napoli, Valencia, QPR, dan Hoffenheim.

Saat ini, ia terpental di liga Meksiko bersama Tigres.


3. Fabio Grosso (Italia)

Gol yang dicetak Fabio Grosso pada menit ke-119 melawan Jerman di semifinal Piala Dunia 2006 tidak akan dilupakan dengan mudah.

Bek kiri itu melepaskan tembakan melewati Jens Lehmann untuk membuat Gli Azzurri melaju ke final.

Lima hari berselang, Grosso menunjukkan keberaniannya dengan maju sebagai eksekutor penalti melawan Prancis.

Pada akhirnya, ia kembali tampil sebagai pahlawan.

Rapor Fabio Grosso pada Piala Dunia 2006 sangat apik.

Apalagi, pada saat itu ia sudah berusia 28 tahun.

Namun, bila menilik performanya di level klub, torehan Grosso sangat standar. Ia memulai karier di Perugia dan Palermo.

Sedangkan, ketika bergabung dengan klub yang lebih elite seperti Inter Milan, Juventus, dan Olympique Lyon, Grosso juga masih kesulitan meraih prestasi.


4. Mauricio Isla (Chile)

Sulit untuk menepikan pemain tim nasional Chile ini dari daftar.

Sebab, pemain yang kini menginjak usia 31 tahun itu begitu garang di timnas, namun melempem ketika membela klub.

Udinese membawa Isla ke Eropa usai melihat bakatnya di CD Universitad Catolica.

Sang pemain menghabiskan waktu dari 2007 hingga 2012 di Udinese.

Karier Isla pada level klub mencapai puncak setelah hengkang ke Juventus.

Sayangnya, pada saat itu juga, lampu terang mulai padam.

Meski meraih tiga gelar Serie A, namun performa Isla tidak banyak mendapatkan apresiasi.

Tidak heran, Bianconeri memutuskan meminjamkan sang pemain ke QPR pada 2014.

Setelah memperkuat klub asal Inggris itu, Isla sempat membela Olympique Marseille, Cagliari, hingga klubnya saat ini Fenerbahce.

Persamaan dari tiga klub itu adalah Isla masih belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik seperti ketika membela timnas Chile.

Isla memiliki 102 caps di Chile, menonjol di dua Piala Dunia dan – sama seperti Vargas – berperan penting untuk gelar bersejarah Copa America 2015 dan 2016.


5. Sergio Romero (Argentina)

Sergio Romero adalah penjaga gawang pengganti pada masing-masing klubnya sejak 2013.

Pertama kali, ia bergantian menjadi penjaga gawang di AS Monaco, lalu, Sampdoria, dan sekarang Manchester United.

Meski demikian, pada periode yang saya, Romero telah mencapai tiga final bersama timnas Argentina.

Romero menjaga gawang La Albiceleste di final Piala Dunia 2014, dan Copa America (2015, 2016). Meskipun, dari tiga laga itu, Romero selalu gagal meraih titel.

Dari penjabaran di atas, terlihat jika sejatinya Sergio Romero punya karier cemerlang di level timnas, kendati saat ini hanya menjadi pelapis David de Gea.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close