Top Skor

5 Nasib Sial Pesepakbola Naturalisasi Indonesia

Akhir tahun ini kita akan disuguhkan turnamen sepakbola negara-negara ASEAN atau yang kita kenal dengan piala AFF. Piala ini begitu menyedot atensi dari penduduk di negara Asia Tenggara, dan pastinya buat kita semua pecinta timnas Indonesia. Di negara kita sendiri ada banyak alasan untuk tidak mendukung timnas karena banyaknya masalah internal namun rasa kebangsaan yang besar membuat timnas ini tidak pernah ditinggal fans beratnya.

 

 

Timnas sedikit mendapatkan harapan segar ketika ada beberapa pemain naturalisasi yang ikut membela timnas, terutama ketika nama-nama seperti Cristian Gonzalez dan Irfan Bachdim ikut di dalamnya. Namun kegagalan tetap terjadi untuk timnas ini, ketika babak final menjadi akrab untuk prestasi kita. Dan saat ini kita akan lebih melihat pemain naturalisasi yang pernah ambil bagian di timnas namun sayangnya bernasib sial hanya karena “numpang lewat” saja. Siapa sajakah mereka, berikut analisanya :

10 Daftar Pemain Naturalisasi di Indonesia 1

1. Jhonny van Beukering

Apes benar nasib pemain naturalisasi asal Belanda, Jhonny van Beukering. Karier sang striker terus mengalami keterpurukan begitu mudik ke Belanda seusai tampil membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. Ia kini jadi penganggur karena terkena skorsing KNVB.
Jhonny van Beukering yang pernah bermain di sejumlah klub top Belanda, semacam Feyenoord, Vitesse, dan Go Ahead Eagles, menganggur selama setahun karena skorsing Komisi Disiplin KNVB.

 

Hukuman dijatuhkan otoritas tertinggi sepak bola Negeri Kincir Angin ke pemain bertubuh gempal tersebut pada Oktober 2015. Jhonny terlibat keributan dengan pemain dan suporter klub Divisi C3, DVC ’26, pada laga Piala KNVB yang dihelat pada 2 September 2015.
Jhonny saat itu membela klub Divisi C1, SC Veluwezoom. Seperti yang dilansir media Belanda Gelderlander, penyerang yang sempat membela klub Pelita Jaya pada 2011-2012 itu dilarang terlibat dalam aktivitas sepak bola selama 12 bulan, terhitung mulai ketuk palu keputusan pada 19 Oktober 2015. Klub yang dibelanya juga dikenai hukuman denda 150 euro.

 

Keputusan tersebut terasa menyesakkan bagi Jhonny. Karier sepak bolanya bak tamat, peluangnya mendapat klub baru menipis karena faktor usia yang tak lagi muda.
Bomber kelahiran 29 September 1983 itu tiga tahun belakangan mengais rezeki di klub-klub amatir. Ia tercatat membela klub Presikhaaf (2013), MASV Arnhem (2013-2014), dan SC Veluwezoom (2015). Di klub-klub tersebut ia jarang tampil di jajaran pemain utama.
Merosotnya karier sang pemain juga dipicu perilakunya yang tidak disiplin. Badan Jhonny van Beukering melar karena gaya hidupnya yang tidak teratur.

 

Saat mendatangkan sang pemain pada 2012 untuk keperluan Piala AFF, PSSI dihujami kritik tajam masyarakat. Dengan postur gendut tak lagi mirip atlet profesional. Intinya Jhonny dinilai tidak layak membela Timnas Indonesia!
Kenyataannya saat berlaga di Piala AFF, pelatih Tim Merah-Putih kala itu, Nilmaizar, lebih sering menempatkan pemain binaan akademi Vitesse itu di bangku cadangan.
Seusai Piala AFF 2012, tak ada klub Indonesia yang mau merekrut Jhonny van Beukering. Lantaran frustrasi ia pulang ke Belanda. Ironisnya di negara tanah kelahirannya kariernya makin mandek.

 

Pada Januari 2014, sang pemain tersandung kasus kriminal karena memiliki 600 pohon ganja yang tertanam di salah satu rumahnya di Arnhem. Jhonny membantah kalau ia yang menanam tumbuhan yang masuk kategori narkotika tersebut.
“Rumah saya sedang disewakan. Sebagai pemilik rumah, harusnya saya mengecek lebih sering tempat itu. Jika saya tahu, tentu akan saya larang. Tapi, Anda tak bisa terus mengawasi segalanya. Sekarang saya diringkus sebagai tersangka,” katanya seperti dikutip dari Voetbalprimeur.

 

 

2. Tonnie Harry Cusell Lilipaly

Sejak meninggalkan Indonesia pada 2014 usai didepak Barito Putera, Tonnie Harry Cusell Lilipaly, pemain naturalisasi asal Belanda kembali ke kampung halamannya. Ia sempat menganggur tak memiliki klub.

 

Kepergiannya dari Barito menyisakan cerita tidak enak. Pelatih Barito, Salahuddin, menyebut Tonnie pemain yang tidak profesional. Ia sering keluyuran malam dan tidak serius saat menjalani sesi latihan.
Tonnie juga dinilai terlalu banyak mau. Ia menuntut fasilitas ala pesepak bola Eropa. Padahal belum membuktikan kemampuannya di lapangan.
Awal tahun 2015 ia sempat main untuk klub kecil Belanda, Nieuw Utrecht, setengah musim.

 

Pada pertengahan tahun sang gelandang serang dikontrak oleh tim satelit raksasa Eredivisie, Ajax, yaitu AFC Ajax Amateurs atau yang lebih dikenal sebagai Ajax Zaterdag.
Di klub yang berkompetisi di Hoofdklasse atau Divisi V Liga Belanda, Tonnie jadi pilihan utama. Pada musim 2016 pemain kelahiran Amsterdam, 4 Februari 1983 tersebut masih tercatat sebagai pemain Ajax Zaterdag.
Perjalanan karier pemain produk akademi Vitesse terasa miris. Sempat digadang-gadang bakal jadi bintang saat direkrut FC Twente pada musim 2001–2002, Tonnie tak pernah terlihat bisa stabil mempertahankan penampilannya di lapangan. Kariernya selalu pendek di klub-klub yang dibelanya.

 

Saat diboyong ke Timnas Indonesia untuk tampil di Piala AFF 2012, Tonnie Cusell berstatus sebagai pemain klub amatir GVVV. Keputusan PSSI membantunya mendapat paspor Indonesia dipertanyakan, karena kualitas sang pemain tak bisa dibilang istimewa.
Kini bermain di Ajax Zaterdag, tak bisa dibilang sebagai sebuah prestasi. Di usia yang memasuki 33 tahun, semestinya ia bisa berkiprah di klub level divisi lebih baik. Kompetisi Divisi V Belanda sejatinya level amatir. Mereka yang berkecimpung di klub-klub kontestan kompetisi bermain paruh waktu karena memiliki pekerjaan lain di luar sepak bola

 

 

3. Ruben Wuarbanaran

Bergabung bareng Jhonny van Beukering dan Diego Michiels ke Pelita Jaya pada musim 2011-2012, karier Ruben Wuarbanaran di Indonesia melempem.
Rahmad Darmawan, pelatih Pelita Jaya kala itu, jarang menurunkan bek kelahiran Wijhe, Belanda, 15 Agustus 1990 tersebut sebagai pemain inti. Kualitasnya dinilai rata-rata air, alias tidak istimewa.
Ia sempat ikut seleksi Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2011, namun gagal. Ruben pun ikut terbuang dari Pelita Jaya bareng Van Beukering.

 

Pemilik klub Pelita Jaya, Nirwan Dermawan Bakrie, sempat memberi kesempatan kepada Ruben bergabung dengan klubnya di Belgia, CS Vise. Ia dititipkan bareng sejumlah pemain alumnus program pelatnas jangka panjang SAD Uruguay.
Apesnya, di kompetisi Divisi 2 Belgia, Ruben juga minim jam terbang bermain sehingga akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

 

Barito Putera pada musim 2013 menawarkan kontrak bareng pemain naturalisasi lainnya, Tonnie Harry Cusell Lilipaly. Hanya baru beberapa bulan bergabung ia dicoret karena dinilai kualitasnya di bawah ekspetasi pelatih, Salahuddin.
Sempat terombang-ambing tak memiliki klub, pada musim 2015 Ruben Wuarbanaran kemudian dikontrak klub Divisi 5 Jerman, SV Honnepel-Niedermormter. Di musim 2015-2016 sang pemain baru turun sekali ke lapangan di pentas Oberliga Niederrhein (level kompetisi terbawah di Jerman). Itu pun dengan status pemain pengganti.

 

Padahal, saat dinaturalisasi pada tahun 2011, Ruben Wuarbanaran, digadang-gadang bakal jadi pemain muda potensial yang bisa memberi warna timnas level junior. Dengan postur yang ideal 180 cm/79 kg, Ruben bisa bermain di dua posisi sebagai stoper serta gelandang jangkar. Namun harapan tinggal harapan, pesepak bola binaan akademi FC Den Bosch tak bisa menunjukkan level permainan terbaik.

 

 

4. Stefano Lilipaly
Gelandang serang blasteran Indonesia-Belanda bernama lengkap, Stefano Janite Lilipaly, sempat jadi perbincangan hangat kala promosi cepat ke tim utama FC Utrecht. Jam terbang Stefano di pentas kompetisi elite Eredivisie terhitung tinggi sebagai pemain muda.
Pada periode 2010-2012 Stefano tampil sebanyak 30 kali buat FC Utrecht, dengan torehan dua gol. Pencinta sepak bola Tanah Air mendesak PSSI untuk segera menaturalisasi pemain kelahiran 10 Januari 1990 tersebut.

 

Sayangnya, pencapaian itu tak cukup membuat Stefano bertahan di FC Utrecht. Pada musim 2012-2013, ia dilego ke klub Almere FC yang berlaga di kompetisi Eerste Divisie/Jupiler League (kasta kedua). Ia jadi pemain pelanggan posisi inti di klub barunya.
Pada 2013, proses naturalisasi Stefano beres. Berstatus WNI, ia berkesempatan membela Timnas Indonesia dalam laga uji coba melawan Filipina di Stadion Manahan, Solo. Kala itu Tim Merah-Putih yang diasuh Jacksen F. Tiago menang 3-1. Stefano menyumbang satu gol plus sebiji assist.

 

Pada awal 2014 ia dipinang klub Jepang, Consadole Sapporo. Karier sang pemain meredup di J-League 2. Stefano hanya sempat tampil di empat laga saja.
Merasa kariernya terancam, Stefano kemudian secara mengejutkan menerima pinangan Persija Jakarta. Di Tim Macan Kemayoran ia hanya singgah dua bulan saja. Karena kasus pembayaran gaji yang kerap tersendat, pemain yang pernah membela timnas Belanda U-17 kabur ke kampung halamannya.

 

Di Belanda, Stefano Lilipaly sempat menganggur kesulitan mendapatkan klub. Beruntung setelah menjalani sesi trial di sejumlah klub ia kemudian dikontrak SC Telstar (level Jupiler League). Melihat potensi yang dimiliknya, Stefano semestinya bisa berlaga Eredivisie. Hanya keberuntungan seakan menjauh.

 

Semenjak tahun 2013 pun Stefano tak pernah lagi dipanggil ke Timnas Indonesia. Di ajang Piala AFF 2014, pelatih, Alfred Riedl, secara terang-terangan tidak berminat memakai jasanya. Alasannya ia tak yakin terhadap kemampuan Stefano, yang jarang tampil di laga-laga kompetitif kompetisi di klubnya kala itu.

 

 

5. Sergio van Dijk
Malang benar nasib penyerang naturalisasi berdarah Belanda, Sergio van Dijk. Tak ada yang membayangkan kalau striker naturalisasi haus gol yang pernah jadi top scorer Liga Australia (A-League) musim 2010-2011 tersebut kini tak memiliki klub.

 

Pemain yang terakhir tercatat membela klub Australia, Adelaide United kini mudik ke Negeri Kincir Angin. Sergio van Dijk menjalani sesi latihan dengan klub Divisi 2 Belanda, FC Emmen.
Sebelumnya bomber yang pernah berkostum Persib Bandung pada tahun 2013 tersebut sempat menjalani petualangan singkat di Adelaide United. Ia dimainkan saat play-off Liga Champions Asia (LCA).

 

Van Dijk gagal mengantarkan Adelaide ke lolos ke fase grup LCA setelah takluk 1-2 dari klub asal Tiongkok, Shandong Luneng, pada laga play-off Liga Champions Asia zona Timur di Stadion Coopers, Selasa (9/2/2016).
Pada laga tersebut, pemain kelahiran 6 Agustus 1982 itu tampil pada menit ke-63 menggantikan Bruce Djite. Masuknya Sergio Van Dijk membuat lini serangan Adelaide lebih berbahaya. Penyerang kelahiran Assen, Belanda itu mengirimkan umpan yang membuat Cirio mampu mencetak gol dan memperkecil kedudukan menjadi 1-2.

 

Namun, karena klub tersebut gagal lolos ke fase grup, kontrak Sergio tak dilanjutkan. Sergio yang berpaspor Indonesia tak bisa dimainkan di Liga Australia (A-League) karena slot pemain asing di Adelaide sudah terisi.
Selepas dari Australia, Sergio van Dijk sempat mencoba peruntungan ke Liga Tiongkok. Sayang upayanya mendapat klub di Negeri Tirai Bambu gagal hingga batas bursa transfer pada 1 Maret silam.
Saat menganggur Van Dijk numpang berlatih di klub lawasnya FC Emmen. Ia pernah bermain di klub itu pada musim 2005–2009. Striker berkepala plontos tersebut tampil di 98 laga dengan sumbangan 32 gol.

 

Karier striker jangkung yang membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2014 tersebut meredup ketika secara tiba-tiba membatalkan perpanjangan kontrak di klub Thailand, Suphanburi, akhir 2015. Sergio van Dijk kabarnya kecewa karena permintaannya naik gaji tidak dikabulkan oleh klub itu.

 

Di Thai Premier League 2015 Sergio van Dijk tampil apik dengan mencetak 14 gol sekaligus mengantarkan Suphanburi di jajaran papan atas. Saat ini nama Sergio van Dijk disebut-sebut sejumlah klub Indonesia sebagai target buruan mereka. Ambil contoh Persib Bandung dan Persija Jakarta. Hanya proses merekrutnya tidak mudah mengingat ia meminta mahar kontrak cukup tinggi menembus angka Rp 3 miliar.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close