Top Skor

10 Fakta Unik Laga Indonesia Melawan Thailand

 

Laga Indonesia melawan Thailand diprediksi akan berjalan seru, bukan hanya karena ini laga final saja melainkan perjalanan sejarah pertemuan kedua tim yang sudah berlangsung lama. Indonesia sendiri pernah dua kali dikalahkan Thailand pada laga final dan momentum kali ini akan dijadikan pembalasan buat timnas Indonesia.

 

Hal lain tentunya akan dimamfaatkan timnas Indonesia mengingat mereka belum pernah tampil juara di pentas Piala AFF. Indonesia sendiri sedang berdiri penasaran karea total sudah 4 kali tim garuda menjadi finalis, dan tahun ini menjadi yang kelima. Berikut kami sajikan 11 fakta unik laga Indonesia melawan Thailand :

timnas

10. Pertemuan Ketiga di Final Piala AFF

Duel final antara Timnas Indonesia kontra Thailand di Piala AFF 2016 merupakan ulangan kali ketiga. Sebelumnya kedua tim juga berjumpa di partai puncak turnamen elite antarnegara Asia Tenggara tersebut pada edisi 2000 dan 2002.

 

Tim Negeri Gajah Putih sukses menekuk Tim Merah-Putih di dua pertemuan tersebut. Pada Piala Tiger (nama lama Piala AFF) 2000 Timnas Indonesia kalah telak 1-4 melawan Thailand.

Gol semata wayang Indonesia dicetak Uston Nawawi. Di sisi lain bomber Thailand Worrawot Srimaka mengamuk mencetak hattrick plus ditambah satu gol Tanongsak Prajakkata.

 

Sebelumnya di babak penyisihan Timnas Thailand yang diasuh oleh pelatih asal Inggris, Peter Withe juga menang telak 4-1 atas Tim Garuda. Gara-gara hasil negatif di penyisihan, pelatih kepala Nandar Iskandar dicopot dari jabatannya.

 

Bertindak sebagai tuan rumah pada Piala Tiger 2002, Tim Merah-Putih juga dibuat tak berdaya oleh Thailand pada partai final turnamen dengan skor 4-2.Pertandingan harus diakhiri lewat drama adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 di waktu normal.

 

Walau bentrok digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Timnas Indonesia tertinggal 0-2 lebih dahulu. Yaris Riyadi dan Gendut Dony jadi penyelamat untuk memaksakan terjadinya perpanjangan waktu berujung adu tos-tosan.

 

9. Thailand Juara Terbanyak

 

Bersama Singapura, Thailand jadi negara terbanyak mengoleksi gelar Piala AFF. Tim Negeri Gajah Putih jadi yang terbaik pada edisi 1996 (mengalahkan Malaysia 1-0), 2000 ( 4-1 kontra Indonesia), 2000 ( 4-2 kontra Indonesia), serta 2014 (agregat 4-3 kontra Malaysia).

 

Thailand juga mencatatkan diri sebagai negara yang paling sering jadi finalis, mereka total enam kali menembus pertandingan puncak Piala AFF. Selain tahun saat menjadi juara, Thailand juga melaju ke final pada edisi 2007.

Saat itu mereka kalah agregat 3-2 saat menjajal Singapura. Pada pertemuan pertama di Tim Negeri Singa, Thailand kalah 1-2. Selanjutnya pada duel leg kedua di Bangkok kedua tim berbagi skor imbang 1-1.

 

Kegagalan menjadi kampiun juga terjadi di Piala AFF 2008. Saat berjumpa Vietnam Thailand juga kalah agregat 3-2. Pada leg pertama mereka kalah 1-2 di Hanoi, berikutnya hanya meraih hasil imbang 1-1 di Bangkok.

 

8. Indonesia Langganan Gagal di Final

Sejak Piala AFF bergulir pada tahun 1998 (dengan nama Piala Tiger), Timnas Indonesia belum pernah sekalipun jadi juara. Pencapaian maksimal Tim Merah-Putih hanya lima kali jadi runner-up.

 

Timnas Indonesia kalah difinal pada edisi 2000 serta 2002 melawan Thailand (4-1 dan 4-2), kontra Singapura 2004 (agregat 2-5), kontra Malaysia (agregat 4-2).

 

Kegagalan jadi yang terbaik di Piala AFF 2010 menyisakan luka. Mengingat Malaysia yang menjadi lawan sempat dikalahkan oleh Tim Merah-Putih dengan skor telak 5-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

 

 

Namun siapa sangka pada duel puncak leg pertama Timnas Indonesia kalah telak 0-3 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Hasil negatif ini sempat memicu rumor tak sedap. Dua pemain Tim Garuda, Markus Horison dan Maman Abdulrahman digosipkan menerima suap.

 

Timnas Indonesia melakukan revans pada leg kedua dengan skor 2-1 di SUGBK. Kemenangan ini terasa tak berguna karena Tim Negeri Jiran tetap melenggang sebagai juara.

 

Tim Garuda punya kesempatan memperbaiki rekor saat berjumpa Thailand di laga puncak Piala AFF 2016. Pertandingan penentuan menjadi jawara bakal dihelat di Stadion Pakansari (Bogor) pada 14 Desember dan Stadion Rajamangala (Bangkok) pada 17 Desember.

 

7. Final Ketiga Alfred Riedl

Final Ketiga bagi Alfred RiedlPelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, cukup lama berpetualang di kawasan Asia Tenggara. Pada 1998 nakhoda asal Austria tersebut datang dari negaranya untuk menukangi Vietnam.

Ia langsung membuat prestasi mengesankan dengan mengantar Tim Negeri Paman Ho ke final Piala AFF. Sayang pada pertandingan puncak yang digelar di Stadion Hanoi Vietnam kalah 0-1 dari kuda hitam Singapura lewat gol Sasikumar.

Setahun berselang Alfred juga meroketkan Vietnam ke final SEA Games. Pelatih yang satu ini amat dicinta masyarakat Vietnam.

Ia menyulap tim berjulukan The Golden Stars dari negara ayam sayur di kawasan Asia Tenggara untuk kemudian masuk percaturan elite.

Vietnam satu-satunya negara Asia Tenggara tuan rumah Piala Asia 2007 yang sukses menembus perempat final. Sementara itu Indonesia, Thailand, dan Malaysia terkapar di penyisihan.

Saat singgah ke Indonesia pada 2010, Alfred Riedl langsung menunjukkan tangan emasnya dengan meloloskan Tim Merah-Putih ke partai puncak sebelum akhirnya dipermalukan oleh Malaysia. Kesempatan menjadi juara kali pertama didapat arsitek berusia 67 tahun tersebut di Piala AFF 2016.

 

6. Kiatisuk Senamuang Membidik Gelar Kelima

Pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, merupakan pesepak bola legendaris Tim Negeri Gajah Putih. Arsitek yang saat aktif bermain berposisi sebagai striker ini mempersembahkan banyak gelar bagi negaranya.

 

Sebagai pemain ia sukses mengantar Thailand kampiun Piala AFF sebanyak tiga kali: 1996, 2000, dan 2002. Kariernya makin kinclong dengan tambahan empat medali emas SEA Games: 1993, 1995, 1997, dan 1999.

 

Pensiun sebagai pemain pria kelahiran 11 Agustus 1973 tersebut dipercaya menukangi Timnas Thailand U-23 di SEA Games 2013. Hasilnya? Luar biasa! Ia langsung mempersembahkan trofi, setelah mengalahkan Timnas Indonesia U-23 dengan skor 1-0.

 

Tak berhenti sampai di situ, Kiatisuk Senamuang langsung membuat sejarah dengan meloloskan Thailand ke semifinal Asian Games 2014. Di tahun yang sama pelatih yang pernah bermain di klub Inggris, Huddersfield Town itu juga mengantar Thailand juara Piala AFF.

 

Saat ini Thailand juga tengah bersaing di Kualifikasi Piala Dunia 2018 babak akhir zona Asia. Jika sukses di final Piala AFF 2016, Kiatisuk Senamuang menambah daftar prestasi buat timnas negaranya.

 

5. 4 Pemain Indonesia Top Scorer

Walau belum mengoleksi gelar juara Piala AFF, Indonesia boleh berbangga menempatkan empat pemainnya sebagai top scorer sepanjang sejarah turnamen.

Gendut Doni jadi pemain paling tajam di Piala Tiger 2000 dengan koleksi lima gol. Pada edisi selanjutnya 2002 giliran Bambang Pamungkas jadi yang terproduktif dengan lesakan delapan gol.

Pada Piala AFF 2004, Ilham Jayakesuma dianugerahi gelar sepatu emas dengan catatan gol tujuh buah.

Pemain Tim Merah-Putih terakhir yang mencatatkan diri sebagai yang tertajam adalah Budi Sudarsono pada Piala AFF 2008. Budi jadi top scorer bareng Agu Casmir (Singapura) dan Teerasil Dangda (Thailand) dengan torehan masing-masing lima gol.

 

Namun, rata-rata para pemain yang dapat penghargaan sepatu emas asal Indonesia, mengaku tidak merasa puas dengan pencapaiannya. Mereka lebih senang tidak jadi pemain tertajam asal Timnas Indonesia jadi juara Piala AFF.

 

4. Firman Utina Satu-satunya Pemain Terbaik

Sepanjang 10 jilid Piala AFF, hanya seorang pemain asal Timnas Indonesia yang mencatatkan diri sebagai pemain terbaik.

 

Adalah Firman Utina yang terpilih sebagai The Best Player pada Piala AFF 2010. Saat itu Tim Merah-Putih hanya berstatus runner-up setelah kalah oleh Malaysia (0-3 dan 2-1).

Firman, yang berposisi sebagai gelandang serang mencetak satu-satunya gol bagi Tim Garuda di partai puncak.

Di sisi lain Thailand, yang empat kali mencatatkan diri sebagai juara Piala AFF, menempatkan tiga bintangnya sebagai The Best Player. Mereka antara lain Kiatisuk Senamuang (2000), Therdsak Chaiman (2002), dan Chanathip Singkrasin (2014).

 

3. Rekor Produktivitas Teerasil Dangda

 

Sepanjang sejarah Thailand menempatkan empat pemainnya sebagai top scorer Piala AFF. Netipong Srithong-in jadi yang tertajam pada tahun 1996 (7 gol), Worrawoot Srimaka pada tahun 2000 (5 gol) bareng Gendut Dony, serta Teerasil Dangda pada 2008 dan 20012 (4 dan lima gol).

Nama terakhir yang disebut punya peluang kembali menjadi pemain paling produktif mencetak gol di Piala AFF 2016. Saat ini Teerasil Dangda yang pernah berkiprah di klub Spanyol, Almeria itu, memimpin daftar pengoleksi gol terbanyak dengan torehan lima gol.

Pemain paling dekat yang bisa memupuskan mimpi Teerasil jadi top scorer adalah Boaz Solossa asal Indonesia. Saat ini bomber andalan Tim Merah-Putih sudah mencetak tiga gol hingga laga semifinal.

 

 

 

2. 2 Pemain Berdarah Eropa

 

Di skuat Timnas Indonesia maupun Thailand terdapat ada sosok pemain berdarah Eropa. Di Tim Merah-Putih ada figur Stefano Lilipaly. Sang gelandang serang berdarah campuran Belanda-Ambon. Ia lahir di Utrecht dan baru disumpah menjadi warga negara Indonesia pada tahun 2011 silam.

Stefano yang sepanjang hidupnya menetap di Negeri Kincir Angin, merupakan pemain binaan Akademi FC Utrecht. Ia kini berkiprah di klub SC Telstar yang berlaga di kompetisi Divisi Dua Belanda.

Pada 2013 ia sempat bermain di klub Jepang, Consadole Sapporo. Karena kurang jam terbang, ia sempat mencoba peruntungan di Persija Jakarta pada awal 2015. Hanya karena kecewa pembayaran gajinya tersendat sang pemain akhirnya mudik ke Belanda.

Di sisi lain, Thailand juga punya pemain keturunan Eropa, tepatnya asal Swiss. Ia adalah Charyl Chappuis, yang berposisi sebagai gelandang.

Pemain belia kelahiran Kloten, Swiss, 12 Januari 1992 itu sempat membela Timnas Swiss U-15 hingga U-20 pada periode tahun 2006-2011. Ia dididik di Akademi Grasshoppers.

 

Pada tahun 2013 ia memutuskan total membela Timnas Thailand. Penampilan perdananya adalah SEA Games Myanmar 2013. Setelah membawa Tim Negeri Gajah Putih U-23 juara ajang multievent tersebut Charyl Chappuis langsung promosi ke Timnas Thailand level senior setahun berselang.

 

 

  1. Boaz Solossa Paling Pengalaman

Boaz Solossa jadi pemain paling matang jam terbang di Piala AFF. Striker andalan Timnas Indonesia ini sudah turun di turnamen elite kawasan ASEAN tersebut pada tahun 2004.

Saat itu usianya baru 18 tahun dan belum memiliki klub profesional. Bakatnya ditemukan pelatih Tim Garuda saat itu, Peter Withe, lewat ajang PON Palembang 2004.

Walau berusia muda Boaz sama sekali tidak terlihat gelagapan tampil di pertandingan sarat tekanan. Total ia tercatat mencetak lima gol, kedua terproduktif di Timnas Indonesia setelah Ilham Jayakesuma dengan tujuh gol.

 

Sayangnya seperti tak berjodoh, Boaz yang beberapa kali dihantam cedera berat kehilangan momen di beberapa edisi Piala AFF selanjutnya. Ia baru comeback pada Piala AFF 2014.

Sayang ia gagal bersinar saat itu, karena langkah Timnas Indonesia terhenti di penyisihan. Saat ini seperti mengulang masa-masa on-fire Piala AFF 2004. Berstatus sebagai kapten Tim Merah-Putih, Boaz sukses mengantar Indonesia lolos ke final Piala AFF 2016.

Striker berusia 30 tahun itu tercatat sebagai mesin gol utama dengan torehan tiga gol.Striker Thailand, Teerasil Dangda, jadi satu-satunya pemain yang mendekati senioritas Boaz Solossa. Ia telah bermain di Piala AFF sejak edisi 2007.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button