Extra Time

Rahasia Kenapa Brazil Banyak Menghasilkan Pesepakbola Berbakat

joga-bonito

Harus kita sepakati dulu bahwa sebelum Spanyol menguasai persepakbolaan dunia saat ini, Brazil sudah lebih dulu mengirirmkan banyak pemain kelas dunia dan prestasi mentereng buat negaranya. Sebut saja nama-nama seperti Pele, Zico, Ronaldo, Cafu, Roberto Carlos, Rivaldo, Ronaldinho dan Neymar untuk saat ini.
Banyak orang ingin tahu mengapa Brazil bisa begitu konsisten melahirkan pesepakbola top seperti itu. Nah, Seorang Daniel Coyle mencoba mengulasnya untuk kita bisa menjadikan Brazil sebagai contoh dalam melahirkan pesepakbola top dunia.


 

 

 

Daniel Coyle, dalam bukunya The Talent Code (Rahasia Bakat), menceritakan mengapa Brasil menjadi tempat “lahirnya” banyak pemain sepak bola berbakat. Kadang kita sering menganggap orang-orang yang berbakat mendapatkan kemampuannya tanpa usaha. Namun, Daniel mengatakan jika kita berpikir seperti itu maka kita akan terjebak ke dalam cara belajar yang mengerikan.

 

 

16 Jun 1998: Ronaldo of Brazil celebrates after scoring in the World Cup group A game against Morocco at the Stade de la Beaujoire in Nantes, France. Brazil won 3-0. Mandatory Credit: Clive Brunskill /Allsport
Bagi Coyle, bakat adalah keterampilan yang diulang-ulang yang tidak bergantung pada ukuran fisik. Mari kita garis bawahi kalimat “keterampilan yang diulang-ulang”. Bakat dilahirkan dari latihan yang dilakukan berulang-ulang. Pengulangan latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemahiran. Inilah yang menjadi rahasia bakat.


Rahasia bakat dikembangkan dalam penemuan-penemuan ilmiah revolusioner yang menyertakan sebuah saraf insulator yang disebut myelin. Informasi yang didapatkan dari latihan yang berulang-ulang akan tersimpan di dalam myelin. Semakin sering seseorang berlatih (melakukan pengulangan) maka lapisan myelin akan menghasilkan lapisan baru. Semakin tebal myelin tersebut, maka informasi yang ada di dalam myelin itu akan makin tersimpan dengan baik, dan akan meningkatkan kemahiran.
Lalu, latihan seperti apa yang paling tepat untuk dapat menghasilkan lapisan-lapisan baru myelin? Daniel menyebutnya dengan nama Latihan Mendalam. Latihan mendalam tidak cukup hanya memperhatikan mengenai kuantitas: seberapa sering anda berlatih?”, namun juga harus memperhatikan kualitas: seberapa baik saya belajar dari latihan ini?”.


Daniel Coyle menjelaskan latihan mendalam seperti ini: “Latihan mendalam dibangun dengan sebuah paradoks: berjuang dengan cara-cara bertarget tertentu – melakukan hal yang melampaui batas-batas kemampuan anda dan anda melakukan kesalahan-kesalahan, yang membuat anda lebih pandai. Atau dengan kata lain, pengalaman yang memaksa anda untuk tidak tergesa-gesa, untuk membuat kesalahan dan mengoreksinya. Dan hal itulah yang dilakukan oleh para pemain sepakbola dari Brasil.
Simon Clifford, seorang pelatih sepak bola, pergi ke Brasil untuk mengetahui bagaimana cara Brasil bisa menghasilkan pemain sepak bola yang terampil. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyelidiki daerah luas penuh sesak di Sao Paolo. Ia menjumpai banyak hal yang memang ingin ia lihat: hasrat, tradisi, pusat-pusat pelatihan yang benar-benar terorganisir, dan sesi latihan yang panjang. (Para pemain bola remaja di akademi-akademi sepak bola Brasil menempuh latihan dua puluh jam setiap minggunya, jauh lebih lama dibandingkan pemain-pemain bola di Inggris yang hanya berlatih lima jam setiap minggu).


Namun Clifford juga melihat sesuatu yang tidak terduga: sebuah permainan unik yang menjadi senjata rahasia di balik keterampilan pemain sepak bola Brasil. Permainan itu menyerupai sepak bola. Bolanya berukuran setengah dari ukuran bola biasa, bola itu sangat sulit dipantulkan. Para pemain dilatih bukan di lapangan rumput yang luas, tetapi di lapangan seukuran lapangan basket yang dibeton, berlantai kayu.

 

251434970195

Setiap kelompok terdiri dari lima atau enam pemain. Permainan ini memiliki irama dan kecepatan yang membabi-buta: permainan ini terdiri dari rangkaian tindakan rumit yang cepat tanpa kontrol, dan terdiri dari gerakan dari ujung ke ujung tanpa berhenti. Permainan ini disebut futebol de salao, bahasa Portugal untuk “sepak bola dalam ruangan”. Bentuk modernnya disebut futsal.


Futsal disebut sebagai incubator bagi jiwa orang-orang Brasil. Inkubasi tersebut tercermin dalam biografi-biografi para pemainnya. Diawali dari Pele dan kemudian setiap pemain besar Brasil bermain futsal saat kecil. Juninho, misalnya, mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menendang bola berukuran penuh di atas rumput sampai ia berusia empat belas tahun. Robinho menghabiskan waktu latihannya bermain futsal hingga ia berusia dua belas tahun.

 

pele

Gerakan elastico (gerakan menggiring bola ke luar dan masuk) yang dipopulerkan oleh Ronaldinho bermula dari futsal. Begitu juga gol sodokan kaki yang diperagakan Ronaldo pada Piala Dunia tahun 2002 juga berasal dari gerakan futsal.
Mengapa futsal bisa menjadi incubator lahirnya pemain sepak bola yang berbakat? Salah satu alasannya bisa dijelaskan dengan matematika. Menurut penelitian di Universitas Liverpool, para pemain futsal lebih sering menyentuh bola dibandingkan pemain sepak bola – enam kali lebih sering per menitnya. Bola futsal yang lebih kecil dan lebih berat dari bola biasa membuat semakin tinggi akurasi penanganan yang dibutuhkan dan dihasilkan. Dalam permainan futsal yang dimainkan dalam lapangan yang lebih kecil dari biasa, pengoperan dengan tepat adalah kuncinya: secara keseluruhan permainan tersebut berkaitan dengan mencari sudut dan jarak yang tepat serta berkoordinasi dengan cepat dengan pemain lain. Kontrol bola dan ketajaman penglihatan merupakan hal yang sangat penting, sehingga ketika para pemain futsal bermain dalam permainan penuh, mereka merasa seolah-olah memiliki satu ruang bebas untuk bergerak.


roberto carlos 1Kesimpulannya: futsal memadatkan keterampilan sepak bola dalam kotak kecil; menempatkan pemain dalam wilayah latihan mendalam, membuat dan mengoreksi kesalahan dan secara terus menerus menghasilkan solusi atas masalah-masalah yang muncul. Para pemain yang menyentuh bola 600 persen lebih sering, tanpa disadari belajar jauh lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang berada di lapangan luas dan besar di luar ruangan.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker