Top Skor

6 Pelatih yang bisa Menaikkan Performa Klub Barunya

Menjadi pelatih saat ini sangat rentan dengan pemecatan, kekalahan beruntun dan tersingkir dari sebuah kompetisi bisa menjadi alasan pemecatan tersebut. Hal inilah yang menjadi ancaman buat para pelatih saat ini, dimana mereka tidak banyak di kasih kesempatan untuk merubah keadaan klub.

 

Dibawah ini terdapat 6 pelatih yang telah membuktikan diri mampu mengubah situasi klub menjadi lebih baik. Mereka adalah pelatih yang menunjukkan hasil dengan memberi sejumlah prestasi kepada klub barunya. Siapa sajakah pelatih hebat tersbeut, berikut 7 diantaranya :

conte

  1. Antonio Conte

 

Memiliki pengalaman sebagai pemain dan sukses meraih scudetto tiga kali beruntun bersama Juventus. Conte pun datang ke Stamford Bridge pasca menangani Timnas Italia di Euro 2016.

 

Pada awalnya Conte masih kesulitan menentukan formasi idealnya di Chelsea. Namun perlahan, ia membenahi The Blues dengan menggunakan formasi 3-4-3 dan sempat meraih 14 kemenangan beruntun di Chelsea.

 

Sentuhan emas Conte pun menjadikan Chelsea sebagai kandidat kuat peraih titel Premier League musim ini. Conte benar-benar membuat fans dan pemain melupakan keterpurukan di musim 2015/16. Kala itu Chelsea sempat mendekati zona degradasi yang berujung dengan pemecatan Jose Mourinho dan penunjukkan manajer interim, Guus Hiddink.

  1. Claudio Ranieri

 

Menggantikan Nigel Pearson pada 13 Juli 2015, Leicester City sedianya tidak berharap banyak kepada Claudio Ranieri yang hanya diberi target lolos degradasi, dan secepatnya meraih 40 poin – poin aman dari degradasi.

 

Namun seiring berjalannya musim, The Foxes tampil di luar dugaan dan konsisten duduk di empat besar. Harapan dan mimpi pun mulai terbangun, Ranieri kian memotivasi timnya untuk menghadirkan sejarah di Premier League.

 

Bermodalkan pemain-pemain yang belum terkenal kala itu, seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan N’Golo Kante, Leicester mengukir kisah Cinderella dan menjadi juara Premier League 2015/16, menerjang seluruh prediksi di awal musim.

 

Ranieri hanya punya filosofi bermain yang sederhana, memperkuat lini bertahan dan menyerang lawan dengan efektif, memanfaatkan serangan balik.

  1. Julian Nagelsmann

Sejak 2010, Nagelsmann sudah mengabdikan dirinya melatih Hoffenheim dari level muda U-17. Manajemen kepincut dengan tangan dinginnya saat melatih, dan Nagelsmann ditunjuk sebagai pelatih kepala Hoffenheim pada 2015.

 

Namun Nagelsmann baru mulai mengambil alih klub sepenuhnya pada Februari 2016, menggantikan Huub Stevens dan Markus Gisdol. Ia jadi jadi manajer termuda di Bundesliga dengan umur yang baru berusia 29 tahun, namun ia justru mampu memberikan sentuhan emas kepada Hoffenheim.

 

Nagelsmann membawa klub selamat dari zona degradasi pada musim 2015/16, dan membawa klub meraih tujuh kemenangan dari 14 laga sisa. Tren positif itu berlanjut hingga saat ini, mengingat Hoffenheim baru menelan satu kekalahan di Bundesliga. Nagelsmann pun mendapat julukan Mini Mourinho karena kecerdasannya meramu taktik dan memotivasi tim bermain.

  1. Massimiliano Allegri

Penunjukkan Allegri pada 16 Juli 2014 membuat fans bertanya-tanya, “Mampukah Allegri meneruskan kesuksesan Conte di Juventus?.” Namun seiring berjalannya waktu, kedatangan Allegri bak menyempurnakan permainan Juventus.

 

Sebab, Allegri datang dengan pemahaman taktiknya yang luas dan menyempurnakan permainan Juventus, yang sudah memiliki mental juara setelah sebelumnya Conte datang.

 

Efeknya? Positif. Bianconeri meraih empat scudetto beruntun, memenangi Copa Italia yang terakhir diraih pada 1995 dan menembus final Champions League. Juve hanya gagal meraih treble winners, karena di final Champions League kalah 1-3 dari Barcelona.

  1. Pep Guardiola

Sedianya nasib Luis Enrique ketika datang ke Barcelona pada 2014 sama dengan perjalanan karier Guardiola, sama-sama memberikan treble winners. Namun Guardiola melakukannya terlebih dahulu pada musim 2008/09.

 

Mempopulerkan permainan tiki-taka, Barcelona meraih treble winners pada 2009 dengan permainan yang menghibur. Guardiola pun melanjutkan tren bagus di musim perdana melatih klub ketika melatih Bayern Munchen pada 2013.

 

Klub asal Jerman sudah dibawa Guardiola meraih empat trofi, yakni Bundesliga, DFB Pokal, UEFA Super Cup, dan FIFA Club World Cup. Guardiola juga melakukan hal yang sama seperti saat meraih kesuksesan di Barcelona, memberikan permainan yang enak disaksikan di Bayern.

  1. Carlo Ancelotti

Don Carlo – sapaan akrab Ancelotti – itu bisa diibaratkan seperti ‘bapak’ bagi tiap klub yang dilatihnya. Tak banyak berbicara dan beraksi ketika di pinggir lapangan, figur karismatik Ancelotti cukup untuk memotivasi skuadnya.

 

Ia sukses bersama AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain (PSG), Real Madrid, dan kini menularkan hal yang sama di Bayern. Kesuksesannya sebagai pelatih di klub baru, terbukti kala datang ke Madrid pada 2013.

 

Ancelotti langsung memberikan titel Copa del Rey dan memupus dahaga La Decima alias titel ke-10 Champions League. Kini di Bayern, permainan Die Roten lebih efektif ketimbang permainan indah di era Guardiola.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker